Sebelum memulai tulisan ini, saya sebagai Nasrani (Kristen) ingin mengungkapkan rasa prihatin dan menyayangkan kejadian beberapa waktu lalu tepat di hari raya idul fitri yang menyebabkan insiden kebakaran mesjid di Papua (Tolikara). Trust me, i know how it feels.

Media social dan portal berita lagi hangat dengan pembahasan yang berhubungan dengan ‘konflik’ antar umat beragama. Tak sedikit, kejadian ini mendapatkan banyak kecaman keras dari saudara-saudara muslim maupun non muslim.

Sebelum kita ikut-ikutan memberikan judge, ada baiknya kita mengetahui duduk permasalahan pasti terlebih dahulu dan jangan mudah terprovokasi dengan headline berita yang heboh dan terkesan menyudutkan. Saya sempat kerja di media, judul yang kontroversi dan ‘memancing’ itu menaikan rating media tersebut, dengan banyaknya visitor (pembaca) dan sharing (viral news). Teman-teman blogger juga pasti paham hal ini, mediapun melakukan hal yang sama.

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Papua (18 tahun), saya tahu persis kehidupan antar umat beragama di Papua. Boleh saya bilang, bahkan paling erat dan rasa toleransi yang sangat tinggi di sana, dibanding dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia. Itu mengapa, pada saat mendengar kabar ini saya sangat shock dan menyayangkan. Mengapa? Mari sedikit saya bercerita.

Dari kecil, budaya Papua secara natural mengajarkan kami toleransi dan hubungan social satu dengan yang lain yang sangat kental. Kalau teman-teman punya teman Papua, mungkin kalian bisa melihat bagaimana anak-anak yang merantau ke Jawa ini sangat dekat satu sama lain, dan mudah berbaur dengan siapa saja, serta suka terlibat dalam organisasi.

Dalam setahun, hari natal, lebaran, dan tahun baru itu adalah hari yang sangat di tunggu orang Papua, entah itu muslim maupun nasrani. Sama-sama berbahagia dan kesan perayaannya lebih berasa di sana.

Dulu waktu kecil, kami sering berjalan bergerombol dan silah turami ke rumah-rumah yang bahkan kami tidak kenal! Asal pintu rumah terbuka, kami masuk hehe. Jarak rumah dari tempat kami pun bisa cukup jauh! Yang pernah besar di Papua pasti tau dengan istilah “ana-ana kaleng” hehe.. Saya rasa kebiasaan ini dari kecil secara tidak langsung mengajarkan anak-anak Papua bahwa perbedaan agama tidak serta merta membuat kita berbeda, atau ada jarak di antara kita. Kami disatukan berkat budaya di sana.

Saudara saya ada yang menikah dengan orang Muslim. Anak pertama mereka Islam, dan anak kedua mereka Kristen. Dalam setahun, mereka merayakan 2 hari raya. Indah!

Saya juga sempat membaca bahwa asal muasal dari insiden kebarakan itu karena adanya larangan dari pihak GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang meminta umat muslim untuk beribadah tidak menggunakan toa di hari raya, karena ada kegiatan International GIDI di hari yang sama, dan jarak tempat acara dan pelaksanaan ibadah idul fitri cukup dekat. Jujur saya sendiri baru tahu ternyata GIDI itu ada, setahu saya cuma GKI (Gereja Kristen Indonesia), GBI, GPIB, dan beberapa lainnya. Mungkin pengetahuan saya yang kurang. Soal Larangan penggunaan toa pun, sebenarnya saya kurang setuju😦 apalagi ini hari raya besar yang hanya 1x dalam setahun. Harusnya dari pihak GIDI bisa punya rasa toleransi dan bisa memposisikan diri terbalik, bagaimana kalo perayaan natal ada larangan-larangan serupa, apakah mereka terima? Untuk case ini, saya tidak bisa banyak komentar, entah karena budaya di Tolikara berbeda dengan tempat saya (jayapura) atau bagaimana.

Kemudian, menurut informasi dari pernyataan presiden GIDI, mesjid bukan sengaja di bakar. Massa membakar kios-kios dan perumahan karena komunikasi tidak berhasil dijembatani, pihak aparat berusaha membubarkan masa dengan tembakan (12 korban, 1 meninggal) yang membuat mereka menjadi anarkis dan membakar kios-kios tersebut. Api merembet ke kios lain, rumah, dan mesjid ikut terbakar. Penjelasan GIDI ini menurut saya cukup bisa di terima. Di jayapura sendiri, kalau ada aksi anarkis, ruko atau rumah juga kerap di bakar (jadi sasaran).

Saya sempat baca juga ada surat kaleng edaran yang diyakini dari pihak GIDI. Dalam surat tersebut ‘katanya’ umat muslim dilarang melakukan kegiatan beribadah dan juga dilarang menggunakan jilbab! Surat ini sudah dikonfirmasi dari presdien GIDI bahwa itu bukan dari GIDI, dan presiden GIDI tidak pernah menandatangani surat tersebut. Update terbaru pihak polri sedang melacak siapa pengedar surat tersebut. Saya rasa, berjilbab atau tidak, masyarakat Papua tidak ambil pusing, kecuali Anda menggunakan pakaian yang benar-benar tertutup dari atas sampai bawa (seperti di Arab), karena pemandangan itu sangat jarang di sana jadi cukup menarik perhatian.

Pesan saya, terlepas dari Agama, mohon menggunakan akal sehat dan logika. Hindari judge atau komentar-komentar anarkis seperti ‘balas dendam’, mau berjihad, atau hal lainnya. Pikirkan, jika Anda melakukan itu, apakah Anda akan melakukannya kepada teman-teman dekat nasrani Anda, keluarga nasrani Anda, rekan kerja nasrani Anda, guru nasrani Anda, anak buah Nasrani Anda, bos Nasrani Anda, tetangga Anda? tidak kan?

Saya percaya semua agama mengajarkan hal yang sama, KEBAIKAN. Kristen bukan teroris gara-gara pembakaran mesjid. Muslim bukan teroris hanya gara-gara ISIS atau pengeboman gereja. Budha bukan teroris gara-gara kasus Myanmar. Jangan pukul rata (generalisasi) pandangan Anda tentang sesuatu agama hanya karena aksi sekelompok orang.

Akhir kata, semoga kasus ini cepat terselesaikan dan berikan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku!!!