Tag

, , , , , , , ,

Hari ini, di kantor ada cross kado bareng tema-teman kantor. Jadi ceritanya, jauh hari sebelum natal, kami sudah mengambil undian, siapakah orang yang akan kita berikan kado. Target kita tidak akan tahu kalau kitalah sang pemberi kado, karena kado dari kita ini tidak langsung diberikan ke dia, tapi di simpan bareng dengan kado lainnya di suatu tempat yang nantinya di hari H baru dibagikan.

Ritual tukar kadopun berjalan hikmat, lumayan bisa membuat saya tersenyum bahagia bisa berbagi kasih natal dengan teman-teman disekitar karena keluarga saya jauh di timur Indonesia.

Kado yang saya dapatkan sangat kecil T___T udah berharap moga-moga dapat iphone 5 (loh!!!) hehe.. kidding.. Lumayan dapat gantungan kunci – -a Well anyway thank you🙂 Besarnya hadiah tidak seberapa, namun kebersamaan dan semarak natal lah yang dimaknai.

Nah setelah crossing kado, salah satu atasan dari devisi lain menghampiri saya, dan memberikan kado secara personal. Sebut saja mba A. Mba A berkeyakinan nasrani, dan anak-anak kantor lain yang merayakan natal mendapatkan hadiahnya masing-masih🙂 Asiikk dapat double!

Setelah dibuka, ternyata saya mendapatkan Parfum. Tak lama setelah saya buka, mba A menghampiri saya dan berkata “Bayar dengan koin” sambil menyodorkan tangannya. Saya bertanya koin ? kemudian dia menjawab “100 perak atau 500 atau 1000. Apa aja yang penting koin” nah loh… saya kasih 1000 perak.

Suasana ini dibuat seolah saya tidak mendapatkannya secara gratis namun membelinya dengan jumlah Rp.1000. Mba A berkata “Cuma buat jaga-jaga saja”. I got the point. Ternyata mba A percaya ngak percaya soal “cerita” yang mungkin telah memasyarakat itu.

Saya kemudian jadi teringat. Sekitar 4 tahun lalu, bersama mantan pacar saya. Ia memberikan saya sebuah parfum, dan kemudian meminta koin atau lembaran ribuan atau berapa saja jumlahnya sebagai bayaran. Dia bilang kata orang kalo kasi parfum nanti cepat putus. Oh i see.

Nah berbeda dengan yang terjadi sama atasan saya, mungkin ini menghindari hal-hal buruk yang tidak kita inginkan. Ternyata bukan hanya dengan pasangan ya, bisa dengan teman, keluarga, atau orang dekat yang memberikan parfum.

Selain parfum, ternyata setelah saya googling barang-barang lain seperti Foto, sweater, baju, juga sebaiknya tidak diberikan secara gratis. Buatlah seolah-olah kita tidak memberikan secara cuma-cuma, namun dibayar dengan jumlah kecil bisa seperti 100 perak, 500 perak atau berapapun.

Saya berusaha untuk mencari asal muasal mitos ini, tapi tidak ketemu. Adakah di antara teman-teman yang mengetahui soal ini ? Saya sendiri tidak percaya dengan ini, namun cukup unik untuk diselidiki apa yang mendasari pemikiran itu🙂